Si Buta dari Sahabat Mata

7 Mar 2010

Kali ini saya bukan bercerita tentang si buta dari goa hantu, tetapi si buta dari Sahabat Mata. Nama beliau Pak Basuki. Saya sempat mengenal beliau ketika beliau datang ke RoTIFreSh (Return of Tuker Ilmu Freedom of Sharing), suatu kegiatan diskusi yang saya adakan bersama dengan teman-teman di Semarang.

Pak Basuki adalah seorang penderita tuna netra dan pendiri komunitas Sahabat Mata. Awalnya beliau bercerita mengapa beliau mendapat kebutaan. Pada awalnya beliau tidak buta tetapi karena angka minus matanya semakin besar sehingga pada suatu saat beliau menderita kebutaan.

Beliau mendirikan Sahabat Mata untuk membantu para penderita tuna netra mempunyai tempat untuk mengolah keahlian sehingga bisa beraktifitas seperti manusia normal umumnya. Walaupun Pak Basuki buta, beliau ingin diperlakukan seperti manusia normal pada umumnya. Beliau berpendapat bahwa seorang tunanetra tidak bisa mandiri kebanyakan karena disebabkan oleh perlakuan yang diberikan oleh orang-orang di lingkungan disekitar mereka yang memberikan perlindungan berlebihan.

Walaupun beliau buta tetapi beliau bisa menggunakan HP, komputer dan peralatan lainnya seperti orang pada umumnya. Update blog Sahabat Mata juga berasal dari ketikan beliau sendiri. Beliau juga bisa menerima SMS yang bisa didengar dengan program tertentu.

Sahabat Mata saat ini berusaha membangun kerjasama dengan beberapa institusi untuk memberikan kesetaraan perlakuan bagi penyandang tunanetra. Misal dalam pendidikan, beliau menginginkan penyandang tunanetra tidak dibedakan dalam mendapatkan perlakuan dalam pendidikan sehari-hari.

Selain keahlian Sahabat Mata juga memberikan bantuan berupa kacamata bagi anak-anak yang menderita masalah penglihatan dan tidak mempunyai kekuatan finansial untuk mendapatkan kacamata. Pak Basuki berharap dengan kacamata tersebut anak-anak penderita masalah penglihatan akan bisa terhindar dari kebutaan sejak dini. Sahabat Mata mempunyai target menyebarkan 1000 kacamata sejak tahun 2007.

Saat ini Pak Basuki meminta support untuk teman-teman yang lebih mampu untuk memberikan bantuan untuk mendapatkan Al Quran braille. Karena untuk mendapatkan Al Quran braille dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, sekitar 1,65 juta perbuahnya. Al Quran braille ini disebarkan kepada teman-teman tuna netra yang membutuhkan.

Saya setuju dengan Mbak Titut bahwa penderita kekurangan fisik disebut DIFFABLE bukan DISEABLE. Menurut saya mereka bahkan lebih bisa daripada orang normal karena mereka melakukan sesuatu dengan kesungguhan dan kesadaran. Sebagai orang normal kita seringkali lupa untuk bersyukur dengan apa yang kita punyai.

Kalau kita sedang berkeluh kesah dengan kekurangan dan masalah yang ada disekitar kita, mungkin kita harus melihat lagi orang-orang seperti Pak Basuki untuk memberikan inspirasi bagi kita. Orang yang buta saja bisa update blog masak orang yang normal tidak bisa?

Have a good day mate!


TAGS Komunitas kontribusi blogger inspirasi untuk negeri Sahabat Mata


-

Author

Follow Me